Terkait Pernyataan Pemberitaan Tentang Lamban Gedung Kuning, Ike Edwin Angkat Bicara.

257

Bandar Lampung,- {BN.Net} Terkait pemberitaan dari beberapa media tentang tuntutan yang mengatasnamakan para petinggi Adat di Kerajaan Adat Paksi Pak Skala Brak yang menuding Ike Edwin menyalahi aturan (Tata Titi) dalam adat istiadat Paksi Pak Skala Brak. Senin Malam, 07/12/2020.

Menurut keterangan Ike Edwin kepada beberapa awak media terkait 7 poin yang menjadi tuntutan tersebut di antaranya untuk menghapuskan nama Lamban Gedung Kuning (LGK) yang berada di Jalan Pangeran H. Suhaimi, Sukarame, Bandar Lampung, bahwa nama tersebut tidak ada kaitannya dengan adat istiadat, dan nama tersebut awalnya yang memberikan adalah masyarakat di sekitar Lamban Gedung Kuning.

“Dikarenakan rumah saya ini kebetulan besar dan di cat dengan warna kuning, dan saya tambahkan nama Lamban yang artinya Rumah,” ungkap Dang Ike (Sapaan Irjen Pol. (Purn). Ike Edwin).

Masih menurut Dang Ike terkait masalah Atribut dan simbol-simbol yang berada di Lamban Gedung Kuning,

“Itu semua adalah atribut dan simbol-simbol kerajaan adat Paksi Pak Skala Brak, dan Paksi Pak Skala Brak itu bukan hanya milik satu Paksi atau satu kelompok, tapi milik 4 Paksi yaitu Paksi Buay Belunguh, Paksi Buay Pernong, Buay Nyerupa dan Buay Bejalan di Way,” ucapnya lagi.

Selanjutnya Dang Ike juga mengungkapkan, bahwa tentang gelar atau Adok yang diberikan oleh PYM SPDB Pangeran Edward Syah Pernong selaku Sultan Kerajaan Adat Paksi Buay Pernong yang Dipertuan ke 23, justru ia baru tahu dari media massa.

“Saya sendiri belum tahu kalau adok atau gelar saya adalah Bhatin Perwira Negara. Padahal saya juga ada beberapa gelar yang diberikan oleh pihak ibu saya dari Way Kanan maupun dari pihak istri saya dari Marga Way Lima, Pesawaran. Bahkan ada juga gelar yang diberikan oleh masyarakat adat diluar Provinsi Lampung seperti dari kerajaan adat Sulawesi,” ungkapnya.

BACA JUGA:  Gubernur Arinal dan Ibu Riana Serahkan Bantuan kepada Masyarakat Terdampak Covid-19 dalam Acara Bakti Sosial di Piabung Pesawaran.

Lebih lanjut Dang Ike Edwin menyayangkan atas sikap dan tindakan dari beberapa orang masyarakat yang mengatasnamakan tokoh adat dari kerajaan Adat Paksi Pak Skala Brak saat menyatakan sikapnya di media massa.

“Jika ada hal-hal yang kurang berkenan atau kurang pas, mereka bukannya datang atau memanggil saya untuk berdiskusi, tapi malah ke Media Massa,” sesalnya. (*)