Bandarlampung, – Merespons peringatan dini Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait potensi curah hujan tinggi pada 17–18 April 2026, Wali Kota Bandar Lampung Eva Dwiana mengambil langkah cepat dan taktis. Ia menginstruksikan aksi “Jumat Bersih” massal di seluruh wilayah yang mencakup 20 kecamatan dan 126 kelurahan pada Jumat (17/4/2026) pagi.
Perwakilan Forum Camat Kota Bandar Lampung, Hendry Satria Jaya, menyatakan kegiatan ini merupakan penguatan dari agenda rutin yang diarahkan Wali Kota. Kali ini, fokus utama diarahkan pada mitigasi konkret di jalur-jalur drainase utama.
Aksi bersih-bersih ini melibatkan seluruh elemen masyarakat bersama aparatur pemerintah hingga tingkat bawah. Sasaran pembersihan meliputi drainase dan gorong-gorong utama, siring atau selokan di permukiman warga, serta saluran air primer dan sekunder yang menjadi titik rawan penyumbatan.
“Sesuai arahan Bunda Eva, kegiatan ini akan dilaksanakan rutin setiap pekan hingga tingkat lingkungan dan RT,” ujar Hendry.
Hendry, yang juga menjabat Camat Panjang, menjelaskan bahwa efektivitas drainase perkotaan sangat bergantung pada kapasitas tampung saluran. “Tumpukan sedimen dan sampah kerap mengurangi volume saluran air hingga 70 persen. Pembersihan ini merupakan langkah mitigasi struktural agar air hujan dapat mengalir optimal ke pembuangan akhir tanpa meluap ke jalan atau permukiman,” jelasnya.
Untuk memastikan instruksi berjalan efektif, Wali Kota mewajibkan seluruh kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) turun langsung ke lapangan. Para pejabat diminta mengawasi jalannya pembersihan di tingkat kecamatan serta melaporkan dokumentasi kondisi lapangan.
Laporan tersebut akan menjadi bahan acuan pimpinan dan Satuan Tugas (Satgas) Bencana Kota Bandar Lampung dalam mengambil langkah strategis selanjutnya sebagai bentuk akuntabilitas kinerja pemerintah.
Hendry menekankan pentingnya koordinasi lintas kelurahan mengingat sistem drainase kota yang saling terintegrasi. “Kami di Forum Camat mendukung penuh instruksi Wali Kota. Ini langkah preventif yang krusial. Mitigasi banjir bukan sekadar soal infrastruktur, tapi juga kesiapan saluran dalam menampung lonjakan debit air yang tiba-tiba sesuai prediksi BMKG,” tegasnya.
Kehadiran para kepala OPD di lapangan diharapkan memberi dorongan moral bagi warga sekaligus memastikan sinergi dari tingkat kota hingga lingkungan terkecil.
“Kami mengimbau masyarakat menjadikan momentum ini sebagai awal pembentukan kesadaran kolektif. Mari bersama menjaga fasilitas publik agar gorong-gorong tidak lagi menjadi tempat pembuangan sampah. Dengan kolaborasi yang baik, risiko genangan di Kota Tapis Berseri dapat diminimalisasi secara berkelanjutan,” pungkas Hendry. (**)






