Bandarlampung, – Program Studi Program Profesi Insinyur (PSPPI) Fakultas Teknik Universitas Lampung (Unila) menjalani asesmen lapangan akreditasi yang dilaksanakan Lembaga Akreditasi Mandiri Teknik (LAM Teknik), di Gedung Dekanat Fakultas Teknik Unila, Senin, 22 Juni 2026.
Kegiatan dibuka Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Sistem Informasi Unila, Prof. Dr. Ayi Ahadiat, S.E., M.B.A. Turut hadir Dekan Fakultas Teknik beserta jajaran pimpinan fakultas, tim penjaminan mutu, pengelola program studi, serta unit pendukung akademik di lingkungan Unila.
Tim asesor LAM Teknik yang bertugas pada asesmen lapangan ini terdiri atas Dr. Ida Bagus Putu Adnyana dari Universitas Udayana dan Soeharto dari unsur industri manufaktur pompa industri.
Prof. Ayi Ahadiat dalam sambutannya menyampaikan, Program Profesi Insinyur memiliki peran strategis dalam memastikan kompetensi lulusan bidang teknik dan disiplin ilmu terkait agar mampu menjawab kebutuhan pembangunan nasional.
Menurutnya, keberadaan PSPPI menjadi sangat penting seiring meningkatnya kebutuhan tenaga profesional untuk mendukung pembangunan infrastruktur, industrialisasi, hilirisasi, serta pengembangan berbagai sektor unggulan daerah.
“Lampung merupakan daerah yang kaya akan komoditas seperti singkong, sawit, lada, dan berbagai potensi kelautan, Program Profesi Insinyur menjadi instrumen penting untuk memastikan kompetensi insinyur yang dihasilkan benar-benar andal dan diakui,” ujarnya.
Ia juga menegaskan penguatan PSPPI sejalan dengan upaya Unila dalam meningkatkan kualitas pendidikan tinggi dan mendukung visi perguruan tinggi berdampak.
“kami yakin Program ini dapat menjadi salah satu lokomotif pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kualitas sumber daya manusia menuju Indonesia Emas,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Tim Asesor, Dr. Ida Bagus Putu Adnyana, menyampaikan apresiasi atas komitmen Unila dalam mengembangkan pendidikan profesi insinyur. Ia mengungkapkan bahwa Unila merupakan salah satu perguruan tinggi pelopor dalam penyelenggaraan Program Profesi Insinyur di Indonesia.
“Kalau berbicara sejarah Program Profesi Insinyur di Indonesia, Unila termasuk yang lebih awal mengembangkan program ini. Bahkan lebih dulu memiliki pemikiran maju dalam penyelenggaraan pendidikan profesi insinyur dibandingkan beberapa perguruan tinggi besar lainnya,” ungkapnya.
Ia menjelaskan tujuan asesmen lapangan adalah memotret kondisi nyata program studi dan melakukan verifikasi terhadap berbagai data serta dokumen yang telah disampaikan sebelumnya dalam proses akreditasi.
“Pada prinsipnya kami hadir untuk melihat dan memotret apa yang sudah dilakukan oleh program studi. Dari hasil verifikasi tersebut akan dilakukan penilaian terhadap berbagai aspek yang menjadi indikator mutu program,” jelasnya.
Pada kesempatan yang sama, asesor dari unsur industri, Soeharto, memperkenalkan profil industri yang diwakilinya sekaligus membuka peluang kerja sama dengan Fakultas Teknik Unila, khususnya dalam bidang magang mahasiswa dan penguatan pengalaman praktik industri.
Rangkaian asesmen lapangan berlangsung selama dua hari dengan agenda verifikasi data, pemeriksaan dokumen pendukung, wawancara bersama pengelola program studi, penjaminan mutu, alumni, serta pengguna lulusan. [Riky Fernando]






