Oleh M Imron Rosadi (Sekretaris Umum DPW Partai Gelora Indonesia Lampung).

981

Lampung,- (BN.Net) Setelah melihat beberapa gebrakan yang dilakukan Wali Kota Bandar Lampung sejak mulai dilantik pada akhir Februari 2021, sepertinya tema-tema tentang kerja membangun masa depan kota, makin menarik untuk kita ulas dan didiskusikan bersama.

Pada tulisan sebelumnya, sempat saya singgung celoteh salah satu teman kurang lebih 3 bulan menjelang piikada.

“Wah, klo kota ini nantinya dipimpin oleh seorang perempuan, pastinya penampakan Kota Bandar Lampung akan semakin cantik, asri dan membuat setiap yang menetap maupun singgah di kota ini, nyaman dan betah,” Biasa, naluri wanita.

Nyatanya memang, pendapat teman saya tersebut benar adanya. Dalam kurun waktu dua bulan terakhir, kita sama-sama melihat, bahwa gebrakan kerja yang dilakukan Wali Kota Bandar Lampung masih didominasi pada kerja-kerja upaya mempercantik kota ini.

Apakah itu salah? Tentu tidak. Tapi di sesi ini, sebagai warga Bandar Lampung saya ingin memberikan sedikit perspektif dan masukan.

Sebenarnya sudah sama-sama kita pahami bersama, yang namanya kerja apik, output-nya akan berbuah pada citra positif.

Walaupun memang, dalam kurun 10 hingga 15 tahun ke belakang, khususnya di era media sosialdan keterbukaan informasi, yang namanya citra positif, bisa direkayasa sedemikian rupa sesuai keinginan para pemesannya.

Tapi tentu saja, yang demikian itu tidak akan bertahan lama. Dengan berjalannya waktu, semuanya akan terungkap.

Apakah citra positif itu benar-benar diperoleh dari hasil sebuah kerja yang berekesinambungan serta terukur, bukan hasil rekayasa capture semata.

Dan lagi-lagi, bicara tentang ide pembangunan Kota Bandar Lampung, kita tidak boleh hanya berpikir dalam skala jangka pendek. Yang harus kita pikirkan dan sama-sama wujudkan adalah satu visualisasi tentang masa depan kota ini dalam kurun 20, 30 tahun yang akan datang. Bahkan seterusnya dan seterusnya.

BACA JUGA:  Sosperda Rembug Desa, Lesty: Prioritaskan Musyawarah dalam Penanganan Konflik.

Sederhananya begini. Contoh dalam gebrakan Wali Kota dalam program Grebek Sungai sebagai salah satu upaya antisipasi banjir di kota ini. Bila kerangka berpikirnya untuk masa depan Bandar Lampung 20 hingga 30 tahun mendatang, tentu sungai-sungai yang ada di kota ini ke depan tidak cukup hanya sekedar bersih. Namun tujuan ke depan tempat tersebut bisa menjadi salah satu spot ekowisata bagi masyarakat, baik yang menetap dan berkunjung ke kota ini.

Apa lagi? Jumat sorelu saya sempat melintas di Tugu Adipura. Terlihat puluhan ambulans milik Pemkot berjejer rapi di sekitaran bundaran.

Memang kita harus akui, bahwa dalam kurun 10 tahun terakhir, masyarakat Bandar Lampung sangat terbantu dengan keberadaan ambulans tersebut.

Pekerjaan rumah kita adalah bicara masa depan pelayanan kesehatan. Wali Kota beserta jajarannya tidak boleh puas hanya dengan program gratis-gratisnya saja. Yang tidak kalah penting dan ini harus menjadi perhatian serius adalah terkait dengan optimasi fasilitas dan kualitas pelayanan kesehatan dari mulai puskesmas pembantu, rawat inap, hingga RSUD yang dimiliki pemerintah kota.

Belum lagi bicara tentang dukungan pada dunia usaha, khususnya untuk para UMKM dan pelaku ekonomi kreatif di kota ini.
Bila kita bicara tentang masa depan Bandar Lampung sebagai kota metropolitan, pusat barang dan jasa di Provinsi Lampung, tentu merancang satu ekosistem bisnis yang komprehensif serta terintegrasi, harus menjadi perhatian khusus. (Red)