Bupati Pringsewu: Jamasan Pusaka Cerminan Akulturasi dan Jembatan Persatuan Masyarakat

oleh -1,555 views

Pringsewu,-  Pemerintah Kabupaten Pringsewu memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh panitia, tokoh adat, dan komunitas pelestari budaya yang telah menginisiasi dan konsisten menyelenggarakan kegiatan Suran dan Jamasan Pusaka Nusantara oleh Paguyuban Pelestari Tosan Aji Panji Sewu, Di Desa Sukoharjo III RT 004/RW 004, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Pringsewu, Minggu (28/06/2026).

Hal tersebut disampaikan kepala kesbangpol Catur Agus Dewanto, S.P. mewakili Bupati Pringsewu Riyanto Pamungkas dalam sambutannya terkait penyelenggaraan acara bertema “Generasi Muda Lestarikan Budaya Bangsa”.

“Kabupaten Pringsewu adalah daerah yang kaya akan keberagaman suku dan budaya. Pluralisme ini merupakan fondasi kekuatan, bukan pemecah belah,” tegas Bupati.

Menurutnya, Pringsewu merupakan wilayah heterogen yang dihuni masyarakat Jawa yang dominan, berdampingan dengan masyarakat asli Lampung, baik adat Pepadun maupun Saibatin.

“Oleh karena itu, tradisi menyambut bulan Muharram lewat pencucian benda pusaka menjadi cerminan akulturasi budaya yang sangat kental di daerah kita,” ujarnya.

Lebih lanjut, Bupati mengingatkan agar ritual jamasan pusaka tidak dipandang sebelah mata.

“Ritual ini tidak boleh kita lihat sekadar sebagai tontonan magis atau rutinitas membersihkan besi tua. Kita harus melihatnya dengan jernih melalui kacamata ilmu dan spiritual. Tentunya ada hikmah besar yang terkandung, salah satunya adalah hikmah introspeksi dan pembersihan jiwa,” katanya.

Lebih lanjut, sebagaimana pusaka dibersihkan dari karat, hati manusia pun perlu disucikan. “Selama setahun penuh, hati kita mungkin telah dikotori oleh karat-karat kedengkian, kesombongan, prasangka buruk, dan kekhilafan. Momentum Muharram ini memanggil kita untuk evaluasi diri. Mari kita bersihkan karat-karat di hati agar kembali suci, tajam dalam berpikir, dan siap melangkah ke tahun baru dengan lembaran yang bersih.”paparnya.

Bupati juga berpesan khusus kepada generasi muda Pringsewu. “Agar kita menghargai proses, kerja keras, dan dedikasi. Agar kita tidak menjadi bangsa yang kehilangan jati diri di tengah arus modernisasi, ” Pintanya.

Di akhir sambutannya, Bupati menegaskan nilai persatuan yang terkandung dalam tradisi ini.

“Di sinilah nilai Jejama Secancanan bergandengan tangan diwujudkan. Tradisi budaya ini adalah jembatan terbaik yang menyatukan masyarakat Jawa, Lampung, dan suku lainnya di Pringsewu. Sekaligus mempererat silaturahmi untuk menjaga kondusifitas, memperkuat persatuan, serta bergotong-royong membangun Pringsewu yang maju, aman, dan sejahtera,” pungkasnya. (Syah)

Tentang Penulis: BeritaNatural.net

Gambar Gravatar
Akurat, Berimbang & Cepat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *