Mbappe & Yamal: Ambisi Mengukir Rekor Pribadi

oleh -18 views

Penulis : Rozali Umar
Advokat Penggemar Sepak Bola
(Dirangkum dari Berbagai Sumber)

Fayza Lamari saat itu hamil sekitar 4 (empat) bulan, 12 Juli 1998. Dia tersenyum bahagia menyaksikan di layar kaca Zinedine Zidane dkk mengangkat tropi Piala Dunia 1998. Di partai final, tuan rumah Prancis kalahkan Brasil 3 : 0. Dua dari tiga gol dicetak Zidane dari sundulan.

“Moga anakku bisa seperti Zidane,” mungkin itu doa dalam hati Fayza sambil mengelus kandungannya.

Fayza melahirkan tanggal 20 Desember 1998, sekitar 5 (lima) bulan setelah pesta kemenangan Prancis untuk kali pertama juara dunia. Fayza dan suaminya Wilfried Mbappe sukacita menyambut kehadiran anak kedua mereka, diberi nama Kylian Mbappe.

Dua puluh tahun kemudian, doa dan harapan Fayza jadi nyata. Sang putra membawa negaranya kedua kali jawara Piala Dunia 2018 di Rusia. Kroasia dilumat dengan skor telak 4 : 2.

Kylian Mbappe saat tampil di final kala itu berusia 19 tahun 207 hari. Dia mencetak satu gol. Namanya pun tercantum dalam History Book FIFA sebagai pemain termuda kedua yang mencetak gol di pertandingan final. Pemain muda pertama yang melakukannya Pele saat usia 17 tahun 249 hari. Di laga final 1958, Pele membobol dua kali gawang Swedia. Brasil juara dunia, skor akhir 5 : 2.

Bagaimana piala dunia tahun ini ?

Pendukung La Furia Roja (Si Merah yang Mengamuk) atau El Matador (Sang Matador) pasti kompak menjawab, “Kami punya Lamine Yamal. Muda bertalenta seperti Mbappe di tahun 2018.”

Benar. Yamal lahir 13 Juli 2007 atau usia 19 tahun 2 hari saat dia berhadapan dengan Mbappe di semifinal Piala Dunia 2026, Rabu (15/7) jam 02.00 WIB dinihari nanti. Di level klub, keduanya telah beberapa tahun terakhir bersaing. Yamal andalan lini serang FC Barcelona, Mbappe bintang utama Real Madrid. Dinihari nanti untuk pertama kalinya mereka bentrok membela negara masing-masing : Yamal El Matador Spanyol, Mbappe Les Bleus Prancis.

Mbappe dan Yamal punya misi sama untuk negaranya : membawa pulang tropi berbalut emas murni 18 gram. Spanyol baru satu kali meraihnya pada Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Prancis sudah dua kali : 1998 (tuan rumah) dan 2018 di Rusia.

Kedua talenta tentunya punya ambisi pribadi. Yamal ingin menang di semifinal, melaju ke final, mencetak gol dan Spanyol juara. Maka, dia menjadi pemain termuda ketiga yang mencetak gol di final di Piala Dunia. Yamal masuk History Book FIFA, namanya persis di bawah Mbappe.

Sedangkan Mbappe pasti ingin meraih prestasi “double hattrick”, tapi maksudnya bukan mencetak 6 (enam) gol dalam satu pertandingan. Hal yang sulit, bahkan mustahil bisa dilakukannya saat melawan Spanyol. Mbappe ingin namanya masuk History Book lagi sebagai penyerang yang sukses membawa negaranya tiga kali berturut-turut menembus final Piala Dunia (2018, 2022 dan 2026). Ambisi pribadi ini makin sempurna apabila Prancis meraih tropi : tiga kali (hattrick) juara dunia.

Maka, dinihari nanti penonton di Stadion Dallas, Arlington dan masyarakat di penjuru dunia yang menyaksikan melalui layar kaca, menjadi saksi pertarungan dua talenta yang tak kalah keren dari Messi Argentina. Nah, fans Spanyol atau Prancis yang menangis? Tunggu saja sampai pertandingan berakhir. (*)

Tentang Penulis: BeritaNatural.net

Gambar Gravatar
Akurat, Berimbang & Cepat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *