Bandarlampung, – Universitas Lampung (Unila) mendorong pengembangan singkong atau cassava di Provinsi Lampung tidak berhenti pada posisi sebagai sentra produksi, tetapi berkembang menjadi pusat cassava nasional yang didukung oleh riset, inovasi, hilirisasi, industri, dan kolaborasi lintas pemangku kepentingan.
Hal tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional Cassava bertema “Menuju Lampung sebagai Pusat Cassava Nasional” yang diselenggarakan Unila melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) sebagai bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-61 Unila, pada Selasa, 8 September 2026, di Ruang Sidang Utama Rektorat Unila.
Kegiatan diikuti peserta secara luring dan daring dari berbagai unsur, mulai dari pemerintah, perguruan tinggi, peneliti, petani, dunia usaha, industri, hingga pemangku kepentingan lainnya.
Rektor Universitas Lampung, Prof. Dr. Ir. Lusmeilia Afriani, D.E.A., IPM., ASEAN Eng., menyampaikan, Lampung memiliki posisi yang sangat strategis dalam pengembangan cassava nasional.
Berdasarkan data yang disampaikan dalam sambutannya, Provinsi Lampung merupakan penghasil singkong terbesar di Indonesia dengan produksi mencapai 6.683.758 ton atau sekitar 34,63% dari total produksi singkong nasional. Potensi tersebut didukung oleh ketersediaan lahan, industri pengolahan, pelaku usaha, perguruan tinggi, serta jaringan pemerintah daerah.
Menurut Rektor, besarnya potensi tersebut perlu diikuti dengan langkah pengembangan yang lebih terpadu. Singkong tidak hanya dipandang sebagai komoditas pertanian, tetapi juga memiliki peluang besar sebagai bahan baku industri, pakan, bioenergi, pangan, serta berbagai produk hilirisasi bernilai ekonomi tinggi.
“Mari bersama-sama kita wujudkan Provinsi Lampung tidak hanya sekadar sebagai sentra produksi, namun benar-benar tumbuh menjadi Pusat Cassava Nasional yang inovatif, kompetitif, dan berkelanjutan,” ujar Prof. Lusmeilia.
Ia menambahkan, Unila siap mengambil peran dalam membangun ekosistem pengembangan cassava melalui penguatan riset, inovasi, pendidikan, dan kolaborasi dengan pemerintah maupun dunia industri. Unila juga siap menjadi salah satu penggerak dalam pembentukan National Cassava Center (NCC) sebagai ekosistem kolaboratif untuk pengembangan singkong.
“Unila siap untuk berkolaborasi dengan semua peneliti dan perusahaan untuk mengembangkan singkong yang menjadi tulang pokok, sehingga Unila dapat menjadi center penelitian dan pengembangan cassava,” kata Rektor dalam sambutannya.
Dari sisi pemerintah pusat, Direktorat Aneka Kacang dan Umbi, Kementerian Pertanian RI turut memberikan perspektif mengenai arah pengembangan komoditas tersebut melalui materi “Kebijakan dan Strategi Pengembangan Produksi dan Hilirisasi Cassava Nasional” yang disampaikan Dr. Ir. Siti Nurjanah.
Materi tersebut menjadi bagian penting dalam seminar karena pengembangan cassava nasional tidak hanya berkaitan dengan peningkatan produksi, tetapi juga bagaimana komoditas tersebut dapat diolah dan dikembangkan menjadi produk bernilai tambah melalui proses hilirisasi.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura (KPTPH) Provinsi Lampung), Elvira Umihanni, menyampaikan materi mengenai “Strategi Pemerintah Provinsi Lampung Membangun Network Orchestrator Menuju Lampung Pusat Cassava Nasional”.
Penguatan jejaring tersebut sejalan dengan gagasan yang diusung Unila dalam seminar. Rektor menegaskan, forum nasional ini diharapkan mampu mempertemukan seluruh pemangku kepentingan untuk membangun visi bersama, merumuskan strategi, serta menghasilkan rekomendasi yang dapat ditindaklanjuti.
Lebih lanjut ia menekankan, seminar ini menjadi ruang strategis untuk mempertemukan berbagai perspektif mengenai pengembangan cassava, mulai dari produksi, teknologi, riset dan inovasi, pengolahan, hilirisasi, penguatan petani dan kelembagaan, pengembangan industri, hingga peningkatan nilai tambah dan daya saing.
Wakil Rektor Bidang Akademik Unila, Prof. Dr. Eng. Suripto Dwi Yuwono, S.Si., M.T., dalam laporan kegiatan menyampaikan, seminar nasional ini diharapkan tidak berhenti sebagai forum diskusi, melainkan menghasilkan gagasan dan langkah strategis yang dapat diterjemahkan menjadi program nyata.
“Melalui seminar ini, kita berharap dapat menghasilkan gagasan, rekomendasi, dan langkah-langkah strategis yang tidak berhenti pada diskusi, tetapi dapat ditindaklanjuti menjadi program nyata dalam meningkatkan produktivitas, inovasi, hilirisasi, nilai tambah, dan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Seminar juga menghadirkan sejumlah narasumber yang memiliki kompetensi di bidang cassava, antara lain Prof. Dr. Eng. Ir. Udin Hasanudin, M.Sc., dan Prof. Dr. Ir. Robert Manurung, M.Eng., serta melibatkan berbagai unsur kelembagaan dan dunia usaha.
Kehadiran peserta dari beragam sektor diharapkan dapat memperluas jejaring sekaligus membuka ruang pertukaran pengetahuan dan pengalaman dalam pengembangan cassava. [Riky Fernando]







