Lampung Selatan, – Sampah organik kini tak lagi sekadar menjadi limbah rumah tangga. Melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang didanai DIPA Politeknik Negeri Lampung (POLINELA) Tahun 2026, tim dosen dan mahasiswa POLINELA menghadirkan inovasi IoT EcoComposter untuk Karang Taruna PERMATIF di Desa Margorejo, Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan.
Kegiatan bertajuk “Pemberdayaan Karang Taruna PERMATIF melalui IoT EcoComposter untuk Pengolahan Sampah Organik Menjadi Kompos Menuju Zero Waste Lifestyle” ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan generasi muda dalam mengelola sampah organik menjadi kompos dengan dukungan teknologi Internet of Things (IoT).
Program dilaksanakan secara bertahap, mulai dari survei kebutuhan mitra, sosialisasi pengolahan sampah organik menjadi kompos, pengenalan teknologi IoT EcoComposter, pendampingan dan praktik penggunaan alat, hingga evaluasi tingkat pemahaman peserta.
Tahap awal kegiatan dilakukan melalui survei untuk memetakan kondisi, kebutuhan, serta permasalahan yang dihadapi Karang Taruna PERMATIF dalam pengelolaan sampah organik. Hasil survei menjadi dasar bagi tim PKM dalam menyusun materi sosialisasi sekaligus menentukan pendekatan teknologi yang sesuai untuk diterapkan kepada mitra.
Pada tahap sosialisasi, peserta diberikan edukasi mengenai jenis dan karakteristik sampah organik, dampak penumpukan sampah terhadap lingkungan, prinsip dasar pengomposan, serta manfaat kompos bagi lingkungan dan masyarakat. Tim juga memperkenalkan konsep zero waste lifestyle sebagai upaya mengurangi sampah sejak dari sumbernya dan memanfaatkan kembali limbah yang masih memiliki nilai guna.
Selain edukasi mengenai sampah, peserta diperkenalkan dengan IoT EcoComposter, yaitu alat pengolahan sampah organik menjadi kompos yang didukung teknologi Internet of Things. Teknologi ini diharapkan mampu membuat proses pengomposan menjadi lebih terarah, mudah dipantau, dan menarik untuk diterapkan oleh generasi muda.
[Suasana sosialisasi dan diskusi bersama anggota Karang Taruna PERMATIF]
Kegiatan sosialisasi dan praktik diikuti oleh 20 anggota Karang Taruna PERMATIF. Setelah memperoleh materi, peserta mengikuti pendampingan dan praktik langsung penggunaan IoT EcoComposter. Dalam sesi ini, peserta diperkenalkan dengan bagian-bagian alat, prinsip kerja, tahapan memasukkan bahan organik, proses pengomposan, hingga cara pengoperasian alat secara benar.
Pendekatan praktik langsung dipilih agar peserta tidak hanya memahami materi secara teoritis, tetapi juga memiliki keterampilan untuk mengoperasikan alat secara mandiri. Antusiasme peserta terlihat dari keterlibatan aktif selama diskusi dan praktik berlangsung.
Sebagai bagian dari rangkaian program, tim PKM juga melakukan evaluasi untuk mengukur tingkat pemahaman mitra setelah mengikuti kegiatan. Evaluasi difokuskan pada dua aspek utama, yaitu pemahaman mengenai pengolahan sampah organik menjadi kompos dan pemahaman terhadap teknologi serta penggunaan IoT EcoComposter. Hasil evaluasi menjadi bahan bagi tim dalam melihat efektivitas proses sosialisasi dan pendampingan yang telah diberikan.
Program PKM DIPA POLINELA Tahun 2026 ini diketuai oleh Ir. Dian Pratiwi, S.T., M.Eng., dengan anggota tim Novia Utami Putri, M.T., dosen Program Studi Teknologi Rekayasa Otomotif; Ir. Arlina Phelia, S.T., M.Eng., dosen Teknik Sumber Daya Lahan dan Lingkungan; Ir. H. Muhammad Idrus, M.Si., dosen Teknik Sumber Daya Lahan dan Lingkungan; serta Respati Anton Sasongko, S.T., M.T., dosen Teknik Sumber Daya Lahan dan Lingkungan.
Kegiatan juga melibatkan mahasiswa dari Teknik Sumber Daya Lahan dan Lingkungan, Teknologi Rekayasa Otomotif, dan Teknologi Rekayasa Elektronika. Kolaborasi lintas bidang tersebut memperkuat penerapan teknologi tepat guna sekaligus memberikan pengalaman kepada mahasiswa dalam mengimplementasikan ilmu yang diperoleh di kampus untuk menyelesaikan permasalahan nyata di masyarakat.
Kegiatan ini sekaligus menjadi wujud sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam memperkuat penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berdampak langsung. Melalui keterlibatan dosen, mahasiswa, dan Karang Taruna, program tidak hanya berorientasi pada penggunaan alat, tetapi juga pada pembentukan kebiasaan baru dalam memilah dan mengolah sampah organik secara mandiri.
Rangkaian kegiatan diakhiri dengan serah terima IoT EcoComposter kepada Karang Taruna PERMATIF. Penyerahan alat ini menjadi bentuk dukungan terhadap keberlanjutan program sehingga teknologi yang diberikan dapat terus digunakan oleh mitra setelah kegiatan PKM selesai.
[Serah terima IoT EcoComposter kepada Karang Taruna PERMATIF]
Melalui dukungan pendanaan DIPA POLINELA Tahun 2026, program ini diharapkan dapat mendorong Karang Taruna PERMATIF menjadi penggerak pengelolaan sampah organik berbasis teknologi di Desa Margorejo. Sampah organik yang sebelumnya dianggap sebagai limbah diharapkan dapat “naik kelas” menjadi kompos bernilai guna, sekaligus mendukung terciptanya lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan menuju zero waste lifestyle. (Red)








