Komisi II, DPRD Provinsi Lampung Sampaikan Terkait Kelangkaan Gula Di Lampung.

61

Bandar Lampung,- Beritanatural.net
Menyikapi kondisi persediaan gula untuk konsumsi masyarakat Lampung, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Lampung, komisi II menyatakan sebab terjadinya kelangkaan gula di Lampung, di ruang rapat komisi, Senin (09/03/2020).

Wahrul Fauzi Silalahi SH. Ketua Komisi II DPRD Provinsi Lampung melalui, Sekretaris Komisi II DPRD Provinsi Lampung Syahlan Syukur mengatakan bahwa Proses produksi gula yang dilakukan oleh industri gula yang ada di Bandar Lampung ini berpengaruh dengan kondisi cuaca iklim dan lahan berkaitan dengan hal tersebut tidak hanya produksi gula saja tapi ada beberapa produk lain nya juga melakukan penurunan produksi.

Banyak macam seprti perubahan iklim yang drastis, perubahan iklim yang tidak dapat di ukur dan curah hujan yang tinggi jadi tingginya iklim yang tidak pasti yang membuat produksi saat ini mengalami penurunan sehingga wajar terjadinya kelangkaan.

Pada dasar permasalahan utama adalah gula ini butuh lahan ketika lahan terbatas kemudian produksi nya rendah maka penurunan produksi akan terjadi maka yg dibutuhkan saat ini adalah impor.

Proses impor juga sudah banyak yang benning atau kuota impor mungki saat ini gula sedang terkena kuota impor. Tidak hanya itu saja kemungkinan besar pula karna ada isu virus corona yang jadikan akses keluar masul barang akan menjadi lebih ketat dan lebih berhati hati.

Bahwasannya di daerah kita terdapat lahan terbesar dan produksi terbesar se Asia Tenggara, namun itu permasalahan nya menjadi rancu apabila kita kekurangan gula.

Peoblematika sekarang yang namanya bisnis yaitu back to the close jadi total close yg ada dengan pendapatan perusahaan menjadi perhatian penting ketika akses atau suplay gula dilahan menjadi terbatas serta merta industri gula mau untuk menjual ke masyarakat saja tetapi mereka akan mempertimbangkan harga diluar apabila harga diluar lebih potensial dari harga di dalam negri maka mereka lebih cendrung untuk memangsa bangsa pasar untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar.

BACA JUGA:  Dendi-Marzuki Sementara Unggul Dalam Perolehan Suara Pilkada Pesawaran.

Mungkin ini dampak nya di Lampung karena di daerah lain bnyak permintaan yang besar dengan potensi pendapatan yang besar, hal ini biasa terjadi juga di kopi.

“Menurut saya Lampung masih sedikit lah untuk kebutuhan gula tapi di luar sana seperti di pulau jawa dan di luar negri jadi konteks Lampung ini menjadi industri tebesar gula se Asia Tenggara yang pasti di lirik oleh luar Negri sehingga menjadi prioritas penjualan. yang menimbulkan capital fly yang menjadi arus modal nya harus keluar dari Lampung bukan di jual di Lampung sendiri tetapi di luar sehingga terjadi nya kelangkaan,” katanya.

Solusi nya yg kita lihat produksi gula saat jni khusus di Lampung jarang sekali petani gula secara besar mungkin ada satu dua di dekat pabrik gula tapi di daerah lain seperti Way Kanan, Lampung Barat tidak ada yang produksi tebu dan gula.

Artinya melihat dari ketergantungan kepada industri gula yang ada di Lampung saat ini kerika gula di industri langka dan terjadi juga di luar daerah maka seharusnya harus mau dan mengembangkan petani gula lokal dan juga memberi lahan untuk aspek pengembangan pertanian gula.

Di samping itu kita juga harus mencari alternatif tidak hanya ada gula tebu tetapi adajuga gula jagung jadi mencari alternatif sumber barang subtitusi.

Dengan tujuan barang yg berasal dari tebu mengalami penurunan maka subttitusi ini mejadi penting karna menggantikan produk gula yang biasa dipakai masyarakat sehingga kebutuhan gula dapat digantikan barang lain yang notabennya memiliki produk yang sama atau simelar sehingga bisa tersubtitusikan dengan baik.

Walaupun kualitasnya akan berbeda karna aspek nya di tinjau dari udara tapi tentu pemerintah tidak bisa begitu saja mengikuti masyarakat karna kita juga harus mampu mengedukasi produk tersebut apabisa gula tebu di pakai lebih dari berapa persen akan ada efek samping dan akan sampaikan apabila kita memakai gula jagung akan lebih aman dikonsumsi.

BACA JUGA:  LPA Kota Bandar Lampung Merilis Data Terkait Laporan Permasalahan Anak.

Artinya pemerintah juga selain mencari cara untuk mencari barang subtitusi itu juga harus mengkampanyekan kesehatan agar tidak terlalu bnyak makan gula sehingga penyakit diabetes semakin lama berkurang di daerah yang khususnya di lampung.

Jangka waktu nya sangat panjang karna pemerintah harus menyiapkan semua nya karna jangan hanya sosialisai tetapi lahan untuk bertani tersebut belum disiapkan, konsep belum di siapkan dan petani juga belum disiapkan.

“Maka kita harus menyiapkan terlebih dahulu kebijakan kebijakan dengan meninjau lahan yg potensial untuk petani lokal,” jelasnya. (*)