Tulang Bawang Barat, – Di balik status Akreditasi A yang disandang SMKN 1 Tulang Bawang Tengah, Kabupaten Tulang Bawang Barat, tersimpan potret kondisi sarana pendidikan yang menuai sorotan publik.
Pantauan di lingkungan sekolah menunjukkan sejumlah bangunan yang tampak mengalami kerusakan pada berbagai bagian. Beberapa plafon atau papon ruang kelas terlihat bolong dan rusak. Di sejumlah titik, lembaran plafon bahkan tampak menganga, memperlihatkan rangka atap yang sudah termakan usia.
Kondisi yang lebih mengkhawatirkan terlihat pada bagian atap bangunan. Sejumlah genteng dilaporkan hilang, sementara beberapa lainnya tampak bergeser dan menggantung. Situasi tersebut dinilai berpotensi membahayakan keselamatan siswa maupun tenaga pendidik apabila sewaktu-waktu terjadi hujan deras atau angin kencang.
Di bagian lain, cat tembok sejumlah ruang kelas terlihat kusam, mengelupas, dan dipenuhi coretan vandalisme. Dinding yang seharusnya menjadi bagian dari lingkungan belajar yang nyaman justru menampilkan kesan kurang terawat.
Pemandangan tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas pengelolaan anggaran pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah yang selama ini dialokasikan.
Sorotan tajam kemudian datang dari Dewan Pimpinan Daerah Lembaga Swadaya Masyarakat Komite Aksi Masyarakat dan Pemuda untuk Demokrasi (DPD KAMPUD) Kabupaten Tulang Bawang Barat.
Ketua DPD KAMPUD Tubaba, Suhendri, mengatakan kondisi fisik sekolah yang dinilai memprihatinkan itu tidak sejalan dengan informasi adanya alokasi anggaran pemeliharaan dan pengelolaan fasilitas sekolah yang nilainya mencapai ratusan juta rupiah.
Menurutnya, apabila anggaran tersebut telah direalisasikan sesuai peruntukannya, maka kondisi bangunan sekolah semestinya dapat dipelihara dengan baik dan memberikan kenyamanan bagi peserta didik.
“Jangan sampai anggaran hanya habis di atas kertas, sementara kondisi gedung sekolah terlihat memprihatinkan. Ini harus menjadi perhatian serius pihak terkait,” kata Suhendri, Kamis (25/6/2026).
Ia menilai fasilitas pendidikan merupakan komponen penting dalam menunjang proses belajar mengajar. Karena itu, kondisi bangunan yang rusak tidak boleh dianggap sebagai persoalan biasa.
Menurut Suhendri, keberadaan plafon yang rusak, atap yang tidak utuh, hingga lingkungan belajar yang terlihat kurang terawat berpotensi mengganggu kenyamanan siswa selama mengikuti kegiatan belajar.
“Jangan sampai siswa belajar di ruang yang rusak sementara anggaran pemeliharaan terus berjalan. Jika memang ada dugaan penyimpangan, harus diusut secara terbuka dan tuntas,” ujarnya.
Berdasarkan data Kemendikdasmen, SMKN 1 Tulang Bawang Tengah merupakan sekolah negeri yang berlokasi di Tiyuh Pulung Kencana, Kecamatan Tulang Bawang Tengah, Kabupaten Tulang Bawang Barat, dengan status Akreditasi A.
Namun, kondisi fisik bangunan yang menjadi sorotan memunculkan pertanyaan publik mengenai sejauh mana kualitas pengelolaan dan pemeliharaan aset sekolah dilakukan secara berkelanjutan.
LSM KAMPUD meminta pihak sekolah untuk membuka informasi penggunaan anggaran pemeliharaan sarana dan prasarana secara transparan kepada masyarakat. Langkah tersebut dinilai penting guna menghindari munculnya spekulasi maupun dugaan penyimpangan dalam pengelolaan keuangan pendidikan.
Selain itu, organisasi tersebut juga mendesak aparat pengawas internal pemerintah serta instansi berwenang untuk melakukan pemeriksaan terhadap penggunaan anggaran yang berkaitan dengan perawatan fasilitas sekolah.
Menurut mereka, pengawasan yang objektif diperlukan agar setiap rupiah anggaran pendidikan benar-benar memberikan manfaat nyata bagi peserta didik.
Hingga laporan ini ditulis, pihak SMKN 1 Tulang Bawang Tengah belum memberikan keterangan resmi terkait berbagai sorotan yang disampaikan LSM KAMPUD.
Sementara Awak media terus berupaya melakukan komfirmasi melalui nomer whatsapp xxxxxx68-0121 kepala sekolah titis sungkowo sayangnya nomer tersebut dalam ke adaan tidak aktif. (Evendi)






